Syifa: “Sekolah adalah salah satu tempat yang nyaman bagiku”



 Oleh: Gunansyah Priyatna
Dalam rangka upaya meningkatkan layanan pendidikan bagi para siswa di sekolah kami, Beberapa waktu kami mengadakan studi banding ke sekolah lain di luar kota, dengan demikian pada hari tersebut para siswa belajar di rumah, dan pihak sekolah mengumumkannya melalui surat pada orang tua siswa.
Malamnya ada sms (short message service) yang saya terima dari salah satu orang tua siswa yang kebetulan tidak menerima surat pemberitahuan dikarenakan pada hari dibagikannya surat tersebut anaknya tidak masuk, isi nya menerangkan pada hari ini anaknya masuk sekolah tapi sekolah tutup, dan anaknya ‘ngamuk’ memukul mukul pintu gerbang, ia ingin masuk, tapi tidak bisa karena terkunci. Akhirnya orang tuanya membawa anaknya untuk jalan-jalan di lapangan dekat sekolah.
Anak tersebut bernama syifa, ia berusia 20 tahun, dalam istilah pendidikan ia termasuk anak tunagrahita sedang. Keadaan badannya tinggi kurang lebih 170 cm, kulitnya putih dan parasnya cantik. tidak banyak kata yang ia keluarkan dari mulut nya, hanya senyuman yang sering tersungging dari bibirnya dan tatapan matanya yang indah, tapi apa yang disampaikan orang lain ia dapat memahaminya. Kemampuan akademiknya tidak menonjol tapi ia senang pelajaran kesenian seni tari dan seni musik, meskipun ia sendiri tidak bernyanyi, hanya kakinya saja yang bergoyang-goyang mengikuti irama lagu, atau ikut menari atau berjoged bila temannya bernyanyi diiringi keyboard.
Ada yang menarik dari Syifa, ia betah dan senang sekali pergi ke sekolah. kata orang tuanya, sering bila bangun dini hari (jam dua malam) ia ingin pergi ke sekolah dan bila hari libur juga ia ingin tetap ke sekolah, dalam hal ini kadang-kadang orang tuanya kewalahan. Dari sikapnya dapat terungkap seolah-olah Syifa bicara “Sekolah adalah salah satu tempat yang nyaman bagiku”.
Sebenarnya bukan hanya syifa seorang, yang betah dan senang pergi ke sekolah, tapi anak-anak lain pun banyak yang merasakannnya demikian. Hal ini berdasarkan informasi dari para orang tua siswa. Para orang tua banyak yang kebingungan ketika menghadapi hari libur apalagi libur panjang, karena anak-anak mereka ingin tetap pergi ke sekolah (hebat juga semangat belajar mereka, ya! bagaimana dengan kita?). Dari para siswa tunagrahita ringan, saya sering mendengar ketika akan libur panjang mereka mengeluh “wah libur, bete saya di rumah mah”.
Dari apa yang dipaparkan di atas, kita mencoba mencari jawaban, mengapa mereka selalu ingin pergi ke sekolah dan merasa betah di dalamnya?
Pertama, di Sekolah (SLB) mereka dapat bersikap wajar dan berekspresi sesuai dengan keadaan dan kemampuan yang ada pada masing-masing dan di terima oleh warga sekolah lain, tidak menjadi perhatian dan bahan ledekan orang lain, meskipun keadaan fisik dan kemampuan berbeda dari anak-anak pada umumnya. berbeda bila mereka bersekolah di SD umum, seperti yang pernah saya dengar dari beberapa siswa yang berasal dari SD, berdasarkan informasi dari mereka mereka sering diledek bodo dan sebagainya.
Kedua, di sekolah (SLB) mereka dapat bermain dengan teman-temannya dengan suasananya nyaman dan menyenangkan, sebab tidak mungkin seseorang mau betah di suatu tempat bila tidak nyaman dan menyenangkan. Banyak para siswa yang jarang main di rumahnya karena beberapa faktor, diantaranya suka menjadi bahan ejekan teman-teman, dan memang mereka sulit untuk bersosialisasi dengan teman sebaya usianya, karena salah satu karakteristik anak tunagrahita lebih senang bermain dengan teman yang usia kalendernya lebih muda.
Ketiga, keadaan yang nyaman dan menyenangkan tidak lepas dari peranan warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru-guru dan karyawan lainnya. (Inilah mungkin salah satu indikator dari konsep pendidikan yang ramah).
Keempat, program pembelajaran yang dilaksanakan dapat mereka ikuti karena disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik yang ada pada mereka, sehingga mereka menjadi senang mengikuti pelajaran.
Kelima, sarana dan prasarana pendidikan juga mempengaruhi suasana sekolah.
Sesuai dengan program pendidikan inklusif yang digalakan pemerintah, mudah-mudahan mereka juga dapat diterima belajar dimana saja, baik di sekolah khusus maupun di sekolah reguler. Sehingga dimanapun mereka berada akan merasakan senang dan nyaman dalam menikmati hak dan kewajiban dalam mendapatkan pelajaran. Semoga!

Penulis: Gunansya Priyatna

Komentar